|
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Tuesday, 10 August 2010 |
Teknologi nano mempunyai potensi untuk membuat revolusi pertanian dan industri pangan, yaitu dengan menggunakan alat yang baru untuk perlakuan molekular bagi penyakit tanaman, diteksi cepat untuk penyakit, meningkatkan kemampuan tanaman untuk menyerap nutrisi dll. Sensor yang cermat dan sistem pengiriman informasi yang tepat dan akurat akan membantu industri pertanian untuk mengendalikan virus-virus dan patogen tanaman lainnya.
Teknologi nano ialah sebagai hasil revolusi industri terbaru yang berkembang dan dikembangkan di beberapa negara maju yang telah menginvestasikan teknologi ini untuk mengamankan kondisi pasarnya. Pada mulanya Amerika memimpin dengan selisih 4 tahun dibanding dengan negara maju lainnya, investasi sebesar 3,7 milyar dollar US ditanamkan melalui National Nanotechnology Initiative (NNI). Selanjutnya Amerika diikuti oleh Jepang dan Uni Eropa, yang dua-duanya mempunyai komitment dana (750 juta dan 1.2 milliar).
Tingkat dana di negara sedang berkembang mungkin masih rendah, namun hal ini tidak mengurangi pengaruh dari beberapa negara pada tingkat dunia. Misalnya, Cina melalui publikasi akademi dalam ilmu skala nano dan topik-topik enjineering, meningkat dari 7.5% di tahun 1995 menjadi 18.3% di tahun 2004, menjadikan negara itu asal dari nomor lima menjadi nomor dua di dunia. Negara lainnya seperti India, Korea Selatan, Iran dan Thailand juga terlibat dengan fokus kepada aplikasi yang spesifik untuk pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan negaranya.
Sebagai contohnya Iran mempunyai program teknologi nano yang mengutamakan kepada pertanian dan industri makanan. Sebuah studi yang baru dari Helmut Kaiser Consultancy (2004) memperkirakan bahwa bahan makanan nano di tingkat pasar akan bergerak naik dari 2.6 M US $ menjadi 20.4 M US$ di tahun 2010. Laporan tersebut menyarankan bahwa lebih dari 50% dari penduduk dunia, penyerapan pasar yang lebih besar untuk makanan nano di tahun 2010 di pimpin oleh Cina di Asia.
Pasar Bahan Makanan dari Nano Pasar bahan makanan nano dunia: Lebih dari 400 perusahaan seluruh dunia sekarang ini aktip dalam penelitian dan pengembangan teknologi nano dan angka ini akan meningkat menjadi 1000 dalam waktu 10 tahun. Dalam kaitannya dengan angka-angka tersebut, Amerika adalah pemimpinnya, diikuti oleh Jepang, Cina dan Uni Eropa.
Sebuah perkiraan dari Business Communications Company (BCC), berdasarkan sebuah penelitian teknik pasar dan analisa perusahaan industri, menunjukkan bahwa pasar dari teknologi nano mencapai 7.6 miliar dollar Amerika di tahun 2003 dan diharapkan menjadi 1 trilyun dollar US di tahun 2011. Namun, potensial penuh dari teknologi nano di dalam sektor pertanian dan industri makanan masih belum terealisasi.
Teknologi Nano dalam Pertanian Sebuah pandangan ke depan (visi) dari Masyarakat Ekonomi Eropa tentang teknologi nano adalah: “Pengetahuan berbasis ekonomi” dan sebagian dari hal tersebut, adalah rencana untuk memaksimalkan potensi dari bioteknologi untuk kebaikan/manfaat bagi Ekonomi, Sosial dan Lingkungan masyarakat Uni Eropa. Untuk pertanian adalah merupakan suatu tantangan baru termasuk di dalamnya ialah meningkatnya kebutuhan kesehatan, makanan sehat, meningkatnya resiko penyakit, serta ancaman terhadap produksi pertanian dan perikanan dari perubahan pola cuaca dunia. Namun, menciptakan sebuah ”bio ekonomi” merupakan sebuah tantangan dan proses yang komplek, termasuk mempertemukan dan menyatukan perbedaan dari beberapa cabang ilmu pengetahuan.
Sumber: www.sinartani.com |
|
Last Updated ( Tuesday, 10 August 2010 )
|
|
|
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 22 July 2010 |
|
ScienceDaily (25 Juni 2010) - Sebuah tim peneliti dari Alberta University dan National Institute for Nanotechnology, Kanada telah memperpanjang masa operasi dari sel surya plastik tersegel, dari hanya hitungan jam hingga untuk delapan bulan.
Kelompok yang meneliti tentang pengembangan teknologi sel surya yang murah dan mudah tersedia menemui rintangan karena masalah leeching kimia dalam tubuh prototipe. Sebuah lapisan kimia pada elektroda menjadi tidak stabil dan bermigrasi melalui sirkuit dari sel tersebut.
Tim yang dipimpin peneliti kimia NINT David Rider, mengembangkan sebuah lapisan polimer yang lebih tahan lama untuk elektroda tersebut. Elektroda merupakan kunci untuk tercapainya teknologi energi surya, yaitu untuk mengambil listrik dari sel.
Sebelum terobosan lapisan polimer plastik ini ditemukan, sel surya yang dibuat tim peneliti hanya bisa beroperasi pada kapasitas tinggi untuk sekitar sepuluh jam.
Ketika Rider dan rekan penelitiannya menyajikan hasil penelitian mereka untuk jurnal, Advanced Functional Material, sel surya plastik mereka telah mampu dioperasikan dengan kapasitas tinggi untuk 500 jam. Tidak hanya itu, sel surya ini masih terus bekerja selama tujuh bulan kemudian. Tim mengatakan sel surya tersebut akhirnya berhenti bekerja ketika rusak saat pemindahan antara laboratorium.
Penelitian kolaboratif oleh Jillian Buriak, Michael J. Brett Rider,'s rekan Rider di University of Alberta dan Institut Nasional untuk Nanoteknologi sudah dipublikasikan 22 Juni di jurnal, Advanced Material Fungsional.
http://www.sciencedaily.com/releases/2010/06/100621173920.htm
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 1 - 3 of 32 |