|
“Tugas terberat MNI yang juga merupakan sumbangsih terbesar dalam berkreasi di tanah air tercinta ini adalah menghimpun kekuatan baru para pakar nanoteknologi” Pada awal abad 20, H.O.S. Tjokro Aminoto, dr. Soetomo dan para tokoh pemuda lainnya telah membuat suatu kreasi baru dalam perjuangan melawan penjajah dengan jalan menghimpun berbagai potensi di masyarakat dalam struktur organisasi yang tertata. Kreasi ini benar-benar berbeda dengan bentuk-bentuk perjuangan selama itu, yang tidak mengedepankan perjuangan-perjuangan individu lagi, melainkan sebuah kelompok yang terkoordinasi dengan rapih, sebut saja organisasi Syarekat Dagang Islam dan Budi Utomo. Organisasi ini menjadi motor penggerak berbagai gerakan-gerakan perlawanan dengan melakukan pendekatan-pendekatan dialog membangun komunitas yang terintegrasi dan menjadi kekuatan yang dahsyat.
Kreasi ini telah menjadi titik tolak kebangkitan bangsa Indonesia dalam melakukan perlawanan dan mengubah cara-cara atau kebiasaan-kebiasaan lama dalam perjuangan. Dengan bentuk perjuangan baru yang dimotori oleh para pemuda berdedikasi tinggi ini, berbagai potensi kekuatan rakyat dapat dimobilisasi dalam satu gerak langkah perjuangan mengusir penjajahan Belanda di atas bumi Indonesia. Setelah berjalan dua dekade, kreasi ini menjadi bola salju yang menggelinding cepat dan membuahkan sebuah prakarya besar anak-anak bangsa yang menjadi titik tolak menuju kemerdekaan, yaitu terjadinya Sumpah Pemuda, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928. Sejak itu, gerakan perlawanan menjadi lebih terintegrasi secara nasional, dimana masing-masing gerakan menjadi penunjang gerakan yang lainnya yang kemudian melahirkan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945.
Kini, titik tolak kebangkitan itu sudah berjalan 100 tahun dan bangsa Indonesia kembali membutuhkan kreasi-kreasi baru putra-putri terbaik bangsa untuk kembali bangkit. Semangat menyatukan langkah “lidi-lidi tegak” (=putra-putri terbaik bangsa) yang berdedikasi tinggi yang sudah semakin banyak dan berserakan harus terus dikumandangkan. Hanya dengan jalan inilah bangsa Indonesia kembali bangun dan bangkit perekonomiannya dengan meng-insert kemampuan putra-putri terbaiknya ke dalam industri nasionalnya. Oleh karenanya, fokus kreasi abad ini adalah gerakan kepakaran dan profesionalisme yang telah diusung oleh kaum muda dewasa ini yang sudah mulai matang sejak dikirim oleh Habibie tahun 1985 lalu melalui program OFP (Overseas Fellowship Program), STMDP (Sience and Technology, Manpower Development Program), dan STAID (Science and Technology for Industrial Development) untuk sekolah “mencuri” teknologi maju di luar negeri. Kini mereka telah menjadi pakar-pakar muda di berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi baik di dalam dan di luar negeri. Perlu dicatat di sini bahwa, sebagian besar para pakar tersebut membidangi nanoteknologi, teknologi abad 21 ini yang kita nantikan, dan telah bergabung dalam Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) sejak didirikan 28 Februari 2005 lalu. Kini lebih dari 100 doktor pakar nano telah siap membangun Indonesia!
Tugas terberat MNI yang juga merupakan sumbangsih terbesar dalam berkreasi di tanah air tercinta ini adalah menghimpun kekuatan baru para pakar nanoteknologi tersebut yang terorganisasi dengan rapih untuk berkontribusi nyata dalam meningkatkan daya saing bangsa dengan meng-insert nanoteknologi ke dalam industri nasional yang terintegrasi. Berbagai kendala yang dihadapi dengan minimnya kualitas SDM, fasilitas, dana, regulasi dan lain sebagainya telah menjadi tantangan baru untuk mengoptimalkan semua potensi yang teridentifikasi. Sosialisasi, edukasi, training dan pemberdayaan seluruh pegiat nano, peneliti, industri, pelajar dan masyarakat luas serta stakeholder pembuat kebijakan telah menjadi program rutinitas untuk mencapai visi menjadikan industri nasional berdaya saing global dengan nanoteknologi.
Mengingat nanoteknologi akan berdampak pada seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, maka isu nanoteknologi harus di angkat menjadi isu nasional yang lintas departemen. Setidaknya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, RISTEK, Perindustrian, Kehakiman, Pertanian, Perdagangan, keuangan, Lingkungan dan Kesehatan harus duduk bersama berembug menerapkan dan mengawal nanoteknologi di Indonesia. Dengan dukungan yang maksimal dari semua elemen di atas, dapat dipastikan bahwa nanoteknologi dapat menggapai masa depan bangsa Indonesia. Jika Presiden Korea mengatakan, “Go nano or die!”, maka selayaknya, Presiden kita juga tidak ketinggalan terhadap negara lain dengan mengatakan, “Nanoteknologi, Indonesia pasti bisa!” .
|