Nanoteknologi Maritim Solusi Tingkatkan Produksi Ikan Nasional

Nanoteknologi Maritim Solusi Tingkatkan Produksi Ikan Nasional

Para pedagang mengikuti transaksi lelang ikan tongkol ANTARA FOTO/Ampelsa/Asf/ama/14.

Indonesia merupakkan negara yang kaya akan potensi maritime. Geografis Indonesia terdiri dari 2/3 lautan menunjukkan potensi kemaritiman yang sangat besar jika mampu dioptimalkan. Volume produksi perikanan tangkap : 5,4 juta ton, budidaya : 5,2 juta ton (KKP 2013). 802.000 ton volume ekspor tahun 2013 (tuna, cakalang, tongkol, udang) ke Cina, Amerika, Uni eropa, Jepang dan lain-lain (KKP 2013). Publikasi FAO tahun 2007 menggambarkan bahwa kondisi sumberdaya ikan di sekitar perairan Indonesia, terutama di sekitar perairan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik sudah menujukan kondisi full exploited. Bahkan di perairan Samudera Hindia kondisinya cenderung mengarah kepada overexploited. Artinya bahwa di kedua perairan tersebut, sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan ekspansi penangkapan ikan secara besar-besaran saat ini. Hal ini menunjukkan bahwasannya perlu adanya sebuah gagasan baru dalam upaya memenuhi keterbutuhan konsumsi perikanan nasional.

Nanoteknologi Maritim Solusi Tingkatkan Produksi Ikan Nasional

Pertumbuhan produksi rata-rata perikanan tangkap dalam periode tahun 1994-2004 mencapai 3,84 persen per tahun. Sedangkan produksi perikanan tangkap pada tahun 2004 mencapai 4.311.564 ton. Apabila pemerintah menargetkan pertumbuhan produksi perikanan tangkap tetap sebesar 3,84 persen per tahun, maka produksi perikanan tangkap nasional tahun 2009 akan mengalami full exploitation diseluruh perairan Indonesia (Tabel-2.2). Bahkan kalau kita hitung dengan menggunakan metode time series forecasting, terlihat bahwa kondisi sumberdaya ikan Indonesia sebelum tahun 2015 akan mengalami over exploited (Grafik-2.2).Pada dasarnya produksi perikanan nasional tidak hanya berasal dari perikanan tangkap di laut.

Nanoteknologi Maritim Solusi Tingkatkan Produksi Ikan Nasional

Namun juga berasal dari perikanan tangkap diperairan umum, perikanan budidaya baik di laut, tambak, kolam karamba, jaring apung hingga persawahan. Dalam prakteknya, produksi perikanan tangkap di laut masih mendominasi hingga lebih dari 70 persen dari produksi perikanan nasional (Damanik, 2007a).
Dari data yang disampaikan oleh Riza Damanik melalui buku menjala ikan terakhir menunjukkan kondisi perikanan indonesia yang seharusnya mulai bergeser dari perikanan tangkap, kepada selain perikanan non tangkap.

Tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia setiap tahunnya terlihat mengalami peningkatan. Secara nasional tingkat konsumsi ikan nasional pada tahun 2002 baru mencapai sekitar 21 kg/kapita/tahun. Namun demikian tingkat konsumsi ikan nasional tersebut terlihat masih di atas rata-rata tingkat konsumsi ikan dunia yang baru mencapai sekitar 16 kg/kapita/tahun. Sementara itu jika dilihat dari perkembangan tingkat konsumsi ikan nasional berdasarkan jenis ikan yang dikonsumsi masyarakat, terlihat bahwa sekitar 65,98 persen dari total konsumsi ikan nasional tahun 2002 didominasi oleh 18 jenis ikan. Yaitu ekor kuning, tuna, tenggiri, selar, kembung, teri, banding, gabus, kakap, mujair, mas, lele, baronang, udang segar, cumi-cumi segar, kepiting, kalong dan udang olahan. Dari 18 jenis ikan yang dominan tersebut terlihat bahwa ikan tuna, selar dan kembung merupakan jenis ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Data Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukan, bahwa rata-rata tingkat konsumsi untuk ketiga jenis ikan tersebut pada periode 1996-2002 adalah mencapai 3,08 kg/kapita/tahun (Ikan Tuna). Atau sekitar 14,65 persen dari total tingkat konsumsi ikan nasional tahun 2002, 2,48 kg/kapita/tahun (Ikan Kembung). Sekitar 11,81 persen dari total tingkat konsumsi ikan nasional tahun 2002 dan 1,05 kg/kapita/ tahun (Ikan Selar) atau sekitar 4,98 persen dari total tingkat konsumsi ikan nasional tahun 2002.

Jika kita melihat kondisi perikanan dan kelautan Indonesia dengan targetan mntri Susi yang menargetkan 3 agenda pokok pada 2015 salah satunya adalah menargetkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor perikanan dan kelautan naik menjadi 508 persen pada 2015. Dari sebelumnya hanya Rp 250 miliar menjadi Rp 1,27 triliun. Bukan pekerjaan mudah jika melihat targetan cukup tinggi yang di tetapkan mentri susi. Tentunya butuh sebuah inovasi untuk melakukan hal tersebut agar mampu mencapai targetan yang telah ditetapkan. Setelah melihat bahwa kesimpulan penelitian Riza Damanik pada tahun 2007 peningkatan PNBP yang seharusnya menopang kebijakkan mentri susi adalah sektor perikanan non tangkap. Melihat ktersediaan dan kelestarian dalam penangkapan ikan harus di perhatikan. berdasarkan prinsip kelestarian sumberdaya dari total estimasi tersebut, sumberdaya ikan yang boleh ditangkap hanya sekitar 80 persen. Artinya bahwa sumberdaya ikan yang boleh ditangkap di perairan Indonesia hanya mencapai 5,12 juta ton pertahun (tangkapan dalam porsi berkelanjutan). Fakta tersebut sekaligus menunjukkan bahwa target pemerintah dalam produksi perikanan tangkap sudah melanggar prinsip kelestarian sumberdaya ikan. Padahal untuk menjaga keberlanjutan pembangunan ekonomi perikanan, faktor utama yang harus diperhatikan adalah keberadaan sumberdaya ikan itu sendiri.

Nanoteknologi adalah manipulasi materi pada skala atomik dan skala molekular. Diameter atom berkisar antara 62pikometer (atom Helium) sampai 520 pikometer (atom Cesium), sedangkan kombinasi dari beberapa atom membentuk molekul dengan kisaran ukuran nano. Deskripsi awal dari nanoteknologi mengacu pada tujuan penggunaan teknologi untuk memanipulasi atom dan molekul untuk membuat produk berskala makro. Deskripsi yang lebih umum adalah manipulasi materi dengan ukuran maksimum 100 nanometer. Inovasi nanoteknologi yang disampaikan oleh Suryandaru sebagai CEO perusahaan naoteknologi nasional merupakkan sebuah gagasan dari keterbutuhan masyarakat terhadap konsumsi ikan dan ketersediaan ikan di laut untuk senantiasa tetap menjaga kelestarian ikan. Suryandaru menjelaskan bahwa “fungsi dari nano teknologi dibidang maritime adalah meningkatkan nilai yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dengan menambahkan inovasi nano teknologi , jelas surya. Ditambahkan, “gagasan yang ingin disampaikan adalah potensi besar Indonesia disektor perikanan dan kelautan diharapakan mampu berkolaborasi dengan inovasi anak bangsa dibidang nano teknologi.

Dalam paparannya surya menjelaskan “ Salah satu produk yang saat ini sedang diteliti yaitu dengan  Mengalirkan gas N2 (Nitrogen) ke dalam air laut dalam bentuk nano-bubble (100 nm), Menurunkan oksigen terlarut (DO) dalam air. DO rendah dapat menekan laju pembusukan ikan. Jika dipadukan dengan pendinginan dengan es, dapat memperpanjang masa simpan ikan tanpa menurunkan kualitas/mutu. Hal ini tentunya dapat disesuaikan dengan keterbutuhan yang diinginkan yakni pembesaran ataupun pengawetan ikan itu sendiri, jelas surya. Sebuah harapan besar penelitian ini dapat menjadi sebuah inovasi baru dalam upaya peningkatan produksi ikan selain tangkap tanpa mengurangi nilai pendapatan dari keterbutuhan ikan nasional. Meskipun masih dalam tahap penelitian surya dan tim yang saat ini bersama Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia berupaya mengembangkan berbagai inovasi teknologi nano dibidang maritime. Ahlan selaku sekjen APMI sangat senang dapat bekerjasama dengan Ilmuan seperti Surya sebagai sebuah upaya melakukan inovasi dibidang maritime dan memanfaatkan potensi kreatifitas pemuda yang luar biasa. “ Harapannya ini menjadi sebuah awal gagasan pemuda maritime dapat memberikan sumbangsih bagi Indonesia, mungkin masih dalam tahapan penelitian namun, upaya dan semangat yang dilakukan perlu mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak agar potensi besar pemuda dan inovasi nano taknologi dapat terus berkembang”, tambah Ahlan. Harapan besar bahwa gagasan pemuda tidak hanya berhenti dalam skala penelitian namun, mampu ditindak lanjuti dengan lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Sumber : Menjala Ikan Terakhir(Sebuah Fakta Krisis di Laut Indonesia)

OLEH: Riza Damanik,

Suhana Budiati Prasetiamartati

Sumber : pemudamaritim

 

Author: admin

Share This Post On
468 ad

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>