Teknologi Nano Anti-Hama Cabai Besutan Tim Farmasi UGM

Teknologi Nano Anti-Hama Cabai Besutan Tim Farmasi UGM

Cabai Merdeka (Foto : merdeka.com)

Teknologi nanokitosan yang digunakan didapat dari limbah kepiting dan udang.

Tim Farmasi Universitas Gadjah Mada berhasil menemukan anti-hama dan penyakit pada tanaman cabai teknologi nano. Anti-hama ini diberi nama nano-kitosan.

Tiga penemu nano-kitosan ini, Dr Ronnye Martien, Rr Hetty Kusumawardhani, dan Adityo Idhi Pramulyo menggunakan kitosan yang merupakan produk turunan dari kitin. Produk ini merupakan limbah kulit udang dan kepiting yang harganya murah serta dapat memberikan nilai tambah bagi petani.

Menurut Hetty, tanaman cabai dipilih lantaran merupakan salah satu bumbu pokok yang kerap digunakan masyarakat Indonesia. Tanaman ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap hama dan penyakit, sehingga berpengaruh pada hasil panen.

Selama ini, petani kerap menggunakan insektisida dan fungisida untuk melindungi tanaman cabai. Sayangnya, langkah ini terbukti kurang efektif membuat tanaman cabai tahan terhadap hama dan penyakit.

” Penyemprotan ini hanya akan membunuh kuman, virus maupun serangga yang berada pada tanaman cabai dan tidak dapat melindunginya secara efektif,” kata Hetty, Senin, 17 April 2017.

Menurut Hetty, teknologi nano-kitosan berupa larutan yang telah dipreparasi dapat digunakan petani untuk tanaman cabai dan buahnya. Penyemprotan ini membentuk lapisan biofilm pada tanaman cabai.

Lapisan ini tak dapat ditembus hama dan serangga. Penyebabnya, lapisan ini tidak memiliki enzim kitinase.

Selain melindungi, larutan nanopartikel kitosan memiliki efek membantu pertumbuhan tanaman cabai menjadi lebih tinggi. Semakin tinggi tanaman cabai maka buah yang dihasilkan akan semakin banyak.

” Dengan pemanfaatan teknologi ini maka peningkatan performa tanaman cabai dapat dicapai secara maksimal dengan meningkatkan daya tahan tanaman dan melindungi tanaman dari hama dari luar,” kata dia.

Teknologi nanopartikel itu telah diaplikasikan di Desa Ngablak, Kopeng, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Aplikasi ini dijalankan di atas lahan seluas lima hektar dengan melibatkan kelompok tani setempat.

Sebagai teknologi pelindungan tanaman, nanokitosan juga dapat diaplikasikan untuk pengawet sayuran, buah-buah dan ikan. Peluang ini dapat diaplikasikan secara bertahap sehingga nantinya dapat menjadi solusi pengawet atau proteksi alami, menggantikan pelapisan lilin pada buah.

 

Sumber : dream.com

Author: admin

Share This Post On
468 ad

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>